Primadona Buah Naga (Dragon Fruit) ~ Artikel Agribisnis

(Artikel ini dibuat dengan penuh cinta oleh Reza Siskana Lia @kubusmelingkar)
Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya meliputi hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, baik di sektor hulu maupun di sektor hilir. Pertanian memiliki beberapa perkembangan untuk sampai pada tahap agribisnis yaitu tahapan mengambil makanan dari alam dan ladang berpindah, tahapan budidaya, tahapan dimana petani mulai memasukkan unsur bisnis (komersialisasi = berdagang) sampai terbentuklah pertanian agribisnis yang dikenal oleh manusia hingga saat ini.
 Buah naga merupakan komoditas agribisnis pertanian yang dapat dijadikan unggulan di Indonesia. Meskipun sebagai pendatang baru dalam komoditas buah-buahan, popularitas buah naga langsung melonjak dan sejajar dengan popularitas buah yang sudah lama dikenal masyarakat. Hal ini karena buah naga memiliki khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, selain itu di pihak petani diuntungkan karena pemasaran buah naga dapat dijual dengan harga yang relatif tinggi.
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar dapat lebih mengetahui bagaimana potensi buah naga sebagai komoditas unggulan bisnis pertanian (agribisnis) di Indonesia. Manfaat yang diperoleh dari pembuatan artikel ini adalah menambah pengetahuan tentang budidaya yang efektif untuk meningkatkan hasil panen buah naga sehingga dapat meningkatkan profit bagi petani buah naga.

Karakteristik Buah Naga
Buah naga termasuk dalam kelompok tanaman kaktus atau famili Cactaceae dan sub famili Hylocereanea. Dalam sub famili ini terdapat beberapa jenus, sedangkan buah naga termasuk  dalam genus Hylocereus. Genus ini terdiri dari sekitar 16 spesies. Dua diantaranya memiliki buah yang komersial, yaitu Hylocereus undatus buah naga yang berdaging putih dan Hylocereus costaricensis buah naga berdaging daging merah. Secara morfologi tanaman ini termasuk tanaman tidak lengkap karena tidak memiliki daun yang mana hanya memiliki akar, batang dan cabang, bunga, buah serta biji. Perakaran tanaman buah naga sangat tahan dengan kekeringan dan tidak tahan genangan dalam waktu yang cukup lama. Tanaman buah naga jika dicabut dari tanah, tanaman ini masih hidup terus sebagai tanaman epifit dengan cara menyerap air dan mineral melalui akar-akar udara yang ada pada batang tanaman (Kristanto, 2009).

Komoditas Holtikultura
Tanaman buah naga merah dan putih merupakan salah satu tanaman holtikultura. Tanaman ini dapat dijadikan komoditas primadona di Indonesia. Tanaman buah naga dapat tumbuh dengan baik dan berbuah lebat serta memiliki rasa yang manis memerlukan penyinaran matahari langsung sepanjang hari (minimal 8 jam sehari). Berkurangnya intensitas penyinaran matahari yang diterima akibat ternaungi gedung/bangunan atau tanaman lain maka pertumbuhan tanaman dan produksinya tidak maksimal bahkan menurun(Cahyono, 2009).

Budidaya Buah Naga
Budidaya tanaman buah naga di kebun memerlukan beberapa tindakan perawatan yang harus dilakukan diantaranya adalah penyulaman, pengikatan, dan pengaturan letak, pengairan, pemupukan, pemangkasan serta penyeleksian bunga dan calon buah (Kristanto, 2009). Tanaman buah naga merupakan tanaman tropis dan sangat mudah beradaptasi terhadap lingkungan dan perubahan cuaca seperti sinar matahari, angin, dan curah hujan. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini akan lebih baik bila hidup di dataran rendah antara 0 - 350 m dpl. Suhu udara yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah naga ini antara 260 - 360 C dan kelembaban antara 70 - 90 %   (Rukmana, 2003).
Ketinggian tempat untuk pembudidayaan buah naga merah dan putih yaitu dataran rendah sampai medium yang berkisar 0  m - 500 m dari permukaan laut, yang ideal adalah kurang dari 400 m dpl. Daerah pada ketinggian di atas 500 m dpl, buah naga merah dan buah naga putih masih dapat tumbuh dengan baik dan berbuah, namun memiliki kelemahan yaitu buahnya tidak lebat dan rasa buah kurang manis (Cahyono, 2009). Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini adalah sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pada curah hujan 600 - 1.300 mm/tahun pun tanaman ini masih dapat tumbuh. Namun, tanaman ini tidak tahan dengan genangan air. Hujan yang terlalu deras dan berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan yang ditandai dengan proses pembusukan akar yang terlalu cepat dan akhirnya merambat sampai ke pangkal batang. Sementara intensitas sinar matahari yang disukai sekitar 70% - 80%  (Kristanto, 2009).
Struktur tanah yang gembur juga meningkatkan drainase tanah sehingga dapat mencegah genangan air. Jika drainase tanah baik, maka seluruh kehidupan yang berada di dalam tanah berjalan dengan baik dan tanaman dapat tumbuh dengan subur dan berproduksi baik. Tanaman buah naga tidak tahan terhadap air yang menggenang lama karena dapat menyebabkan perakaran dan batang membusuk. Di samping itu, bila tanaman sedang berbunga atau berbuah, maka keadaaan air yang menggenang dan berlebihan dapat menyebabkan rontoknya semua bunga dan buah (Cahyono, 2009).

Potensi Pemasaran Buah Naga
Komoditas hortikultura khususnya buah-buahan memiliki prospek cerah dalam sektor pertanian. Pengembangan buah-buahan berpola agribisnis dan agroindustri memiliki prospek yang sangat cerah karena permintaan terhadap komoditas tersebut cenderung naik, baik di pasar dalam maupun luar negeri (Ariyanto, 2006). Melihat peluang dan potensi dalam pengembangan buah naga, tentunya langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam menjalankan usahatani buah naga adalah analisis usahatani yang ditinjau dari aspek finansial. Keberhasilan kegiatan usahatani tidak semata–mata dilihat dari peningkatan produksi panen. Keberhasilan usahatani juga diukur dengan menganalisa apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak. Oleh karena itu, analisis kelayakan finansial penting dilakukan. Menurut Soekartawi (1991) analisis finansial dilakukan karena analisis ini didasarkan pada keadaan sebenarnya dengan menggunakan data harga yang sebenarnya ditemukan di lapangan, sehingga dapat segera dilakukan penyesuaian bila proyek tersebut berlangsung menyimpang dari rencana semula.

Cara Budidaya Buah Naga Awal Tanam sampai Panen
Buah naga tidak hanya unik, namun juga mengandung banyak zat gizi terutama vitamin dan mineral esensial. beberapa kandungan buah naga yang penting bagi kesehatan antara lain vitamin C, kalsium, fosfor dan serat. Vitamin C tertinggi terdapat pada buah naga putih (Hylocereus undatus). Beberapa jenis buah naga seperti buah naga yang berwarna merah (Hylocereus costaricensis) mengandung antioksidan yang baik untuk mencegah penyakit kanker.
Pembudidayaan buah naga yang dilakukan adalah pembibitan, pengolahan tanah, perawatan, pemanenan dan penanganan pasca panen. Perbanyakan buah naga dengan cara vegetatif yaitu dengan stek cabang atau batang. Petani buah  naga biasanya menggunakan sistem stek karena selain pertumbuhan dan waktunya singkat juga menghasilkan rasa buah yang sama dengan induknya. Batang yang digunakan untuk stek batang atau cabang harus dalam keadaaan sehat, keras, tua, sudah pernah berbuah 3 - 4 kali dan batang atau cabang berwarna hijau tua. Ukuran stek pada tanaman buah naga yang ideal yaitu antara 20 - 30 cm, tetapi juga ada yang membuat bibit dengan panjang 40 cm. Bibit yang baik yaitu bibit yang mempunyai minimal empat mata tunas atau lebih supaya tanaman  cepat menghasilkan cabang-cabang yang produktif. Selain itu diameter batang bibit juga berpengaruh terhadap kualitas bibit atau tanaman. Sulur atau cabang yang akan dijadikan bibit di potong sepanjang 20 - 40 cm kemudian bagian sulur yang akan ditanam atau ditancapkan tanah diruncingkan supaya tidak terbalik dalam penanamannya, selain itu juga agar akar yang muncul banyak sehingga tanaman kuat. Pemotongan atau pembuatan bibit ini dilakukan menggunakan gunting yang bersih, tajam dan steril. Pemotongan dilakukan seperti itu agar supaya bibit mudah membentuk akar. Sebelum ditanam pada lahan semai atau polybag bibit diangin-anginkan selama kurang lebih 2 - 3 hari untuk mengeringkan atau menghilangkan getah pada bekas potongan agar sulur tidak cepat membusuk.
Penanaman  bibit pada lahan semai atau polybag yaitu menggunakan tanah yang sedikit berpasir dan ditambah dengan pupuk kandang dan dolomit, perbandingannya yaitu 2 (tanah) : 1 (pupuk kandang). Sebelum ditanam pada lahan, semai bibit dicelupkan kedalam larutan Roton selama 3 - 5 detik yang mana berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan akar. Jika perlu ditambah pupuk NPK Mutiara agar pertumbuhan bibit cepat membentuk tunas baru yang produktif. Fungsi dari NPK Mutiara yaitu untuk mempercepat pertumbuhan, merangsang pembungaan, pada buah menambah rasa manis. Waktu yang digunakan untuk membentuk akar tanaman buah naga hanya memerlukan waktu selama 3 minggu dimana bibit disemaikan dirumah kaca atau diberi sungkup plastik agar tidak terkena sinar matahari langsung. 2 minggu setelah sungkup dibuka bibit diberi Pupuk NPK phonska dengan pupuk tersebut ditaburkan di sekitar bibit/tanaman buah naga. Setelah tunas bermunculan pilih satu tunas yang sehat, kuat dan besar dengan posisi tunas pada ujung atau mendekati ujung stek dan tunas yang lain dipotong, jika muncul lagi cabang yang tidak diinginkan di potong sampai bibit benar - benar siap untuk ditanam pada lahan.
Pemanenan buah naga dilakukan ketika kulit buah naga berwarna merah merata dan telah masak optimal. Pemanenan buah biasanya menggunakan gunting agar pangkal buah dan pilar tidak rusak. Sebelum diadakannya pemanenan buah, ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan yaitu pemilihan buah siap petik dan cara pemetikan. Jika salah satu tidak diperhatikan maka akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah. Pemilihan buah siap petik sangat diperlukan untuk mendapatkan buah dengan kualitas baik dengan masak panen. hal ini dilakukan agar konsumen puas dengan buah yang dibeli atau ditanamannya. Pemanenan pertama waktu yang digunakan biasanya 11 bulan dan buah yang diambil pertanaman hanya 2. Kriteria buah yang dipanen yaitu yang mempunyai tanda - tanda buah yang yang warna kulitnya sudah menjadi merah tua atau merah mengkilap, mahkota bunga sudah mengerut atau mengecil dan jumbai buah sudah berubah menjadi kemerahan. Jika sudah mengetahui ciri - ciri buah yang telah masak panen langkah selanjutnya yaitu pemetikan buah.
Pemetikan buah memiliki cara khusus agar tidak merusak buah dan pilar. Kesalahan dalam pemetikan buah akan mempengaruhi harga jual buah naga sehingga keuntungan yang didapat petani tidak dapat maksimal. Pemetikan buah dilakukan dengan cara memotong buah pada tangkainya menggunakan gunting pangkas. Pemotongan buah naga menurut letak buahnya ada dua jenis yaitu pemotongan buah yang menempel pada cabang dan pemotongan buah bertangkai panjang. Pemetikan buah yang menempel pada cabang ini perlu dilihat betul posisi buah yang akan dipetik agar tidak merusak buah. Buah yang akan dipetik dipegang dan digerakkan kekanan dan kekiri lalu keatas dan kebawah. Hal itu dilakukan untuk memperhatikan bagian yang paling mudah untuk memotong buah. Jika buah menempel erat pada cabang atau batang maka pemotongan dilakukan dari samping disekitar buah naga yang akan dipetik, buah seperti ini biasanya berbentuk bulat dan membesar. posisi yang kedua yaitu pemotongan buah yang bertangkai panjang. Pada pemotongan buah ini merupakan pemotongan yang paling mudah dilakukan karena dapat dilakukan dari segala arah. Buah yang memiliki tangkai agak panjang ini biasanya buahnya berbentuk sedikit agak lonjong. Untuk pementikannya sendiri buah yang akan dipetik dipegang dengan tangan lalu gunting pangkas diletakkan diantara buah dan cabang dan digunting. Buah yang seperti ini merupakan buah yang paling mudah dipanen.
 Waktu pemanenan tidak ditentukan, yang paling penting yaitu air yang ada pada pilar sudah berkurang. Waktu pemanenan tidak mempengaruhi kualitas buah yang paling penting buah hasil panen segera diletakkan pada daerah yang teduh dan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Pengembangan budidaya buah naga dapat ditingkatkan untuk manghasilkan nilai tambah yaitu selain menjual dalam bentuk buah asli dapat juga diproses menjadi suatu produk yang dapat menghasilkan keuntungan tambahan bagi petani. Perlu adanya contoh bagi para petani buah naga agar tidak hanya menjadi petani atau penghasil saja tetapi juga sebagai suplayer sehingga tidak hanya menanam, merawat, memanen dan menjual buahnya saja, tetapi memproses buah yang tidak laku dipasaran menjadi sebuah produk yang sangat diminati oleh masyarakat luas. Sehingga dengan seperti itu petani mendapatkan keuntungan tambahan dari budidaya buah naga.
Penanganan pasca panen sangat dibutuhkan untuk dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani. Hal yang dapat dilakukan yaitu mengutamakan kualitas dari hasil panen buah naga tersebut, melakukan pengemasan yang lebih menarik, melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang pemasaran atau dengan petani lain untuk dapat mendistribusikan buah naga ke pasar modern bahkan pasar ekspor. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat produk lain sebagai hasil pengolahan buah naga. Tidak hanya menjual buah naga dalam betuk aslinya, tetapi dapat membuat modifikasi produk, seperti sirup buah naga, selai buah naga.

Simpulan
Buah naga berdaging putih (Hylocereus undatus) dan berdaging merah (Hylocereus costancensis) memiliki nilai komersial yang baik. Budidaya buah naga memerlukan beberapa perawatan diantaranya penyulaman, pengikatan dan pengaturan letak, pengairan, pemupukan, pemangkasan, penyeleksian bunga dan calon buah. Budidaya buah naga berpola agribisnis memiliki prospek yang cerah dalam sektor pertanian. Penanganan pasca panen dapat menjadi nilai tambah bagi petani.
Saran
            Penanganan pasca panen sebaiknya dilakukan agar dapat meningkatkan nilai tambah. Sebaiknya  dilakukan perawatan yang baik dalam budidaya buah naga agar mendapatkan hasil panen yang bekualitas.
           

  DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, H. 2006.  Budidaya Tanaman Buah-buahan. PT. Citra Aji Parmana, Yogyakarta
Cahyono, B. 2009. Buku Terlengkap Sukses Bertanam Buah Naga. Pustaka Mina, Jakarta.
Kristanto, D. 2009. Buah Naga : Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rukmana. 2003. Kaktus. Cetakan kelima, Kanisius, Yogyakarta.
Soekartawi. 1991. Agribisnis: Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persada, Jakarta


sekian dulu artikel tentang bisnis buah naga kali ini, semoga bermanfaat :)
wassalamualaikum wr. wb.
"JANGAN LUPA TULIS SUMBERNYA, JADILAH MAHASISWA CERDAS TANPA PLAGIASI"
Salam Cendekia Muda ~
Link Penting : undip.ac.id dan fpp.ac.id


Komentar